Membaca
Sejarah Nusantara
Judul buku : Membaca Sejarah Nusantara
Penulis : Abdurrahman
Wahid
Pengantar : KH A Mustofa Bisri
Penerbit : LKIS, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, 2011
Tebal buku : 133 halaman
Peresensi : Danuji Ahmad
Diskursus sejarah Nusantara memang mengasyikkan.
Kehadirannya terbuka untuk kita telaah dan diperbincangkan dengan ragam tafsir
dan versi. Ragam tafsir itu tentu tidak sekonyong-konyong hadir begitu saja.
Menurut para pakar sejarah, ragam tafsir itu hadir terkait dengan berkembangnya
kebudayaan lisan di antara masyarakat pribumi prasejarah. “Kebudayaan lisan
yang lebih merakyat daripada bahasa tulis itu,” kata para pakar, “sangat
memengaruhi proses penyampaian sejarah dari generasi ke generasi.”
Itu karena sumber penyebarannya dari lisan ke lisan sudah
pasti akan terjadi banyak kerancuan versi di dalam penyebarannya. Berawal dari
sinilah, sumber sejarah Nusantara mengalami titik perbincangan dan perdebatan
yang sangat serius di antara para sejarawan. Salah satu sejarawan yang
meramaikan perdebatan dan tafsir itu tidak lain adalah Abdurrahman Wahid atau
yang akrab di sapa Gus Dur. Bagi sebagian orang, Gus Dur mungkin tidak terkenal
dengan predikat sejarawan, tetapi lebih akrab di mata masyarakat sebagai
agamawan, budayawan, atau bahkan cendekiawan yang mengibarkan spirit
pluralisme, pribumisasi Islam, bahkan sosok guru bangsa yang getol
memperjuangkan hak asasi manusia.
Hadirnya buku yang berjudul Membaca Sejarah
Nusantara, 25 Kolom Sejarah Gus Dur, predikat sejarawan
tampaknya tidak terlalu berlebihan jika kita sematkan kepada beliau, selain
predikat-predikat lain seperti agamawan, budayawan rohaniawan, cendekiawan,
serta lainnya. Gus Dur memang sosok yang multitalenta, unik, cerdik, serta
berpola pikir divergen (berpikir keluar dari konvensional) ketika membicarakan
sesuatu, entah itu masalah agama, politik, serta sejarah. Inilah ciri khas
pemikiran Gus Dur yang oleh sebagian orang dianggap nyeleneh itu.
Oleh sebab itu, buku setebal 133 halam ini cukup menarik
untuk kita baca dan telaah, utamanya bagi peminat sejarah. Buku karya Gus Dur
ini merupakan acuan yang pas untuk memperkaya perspektif, data, dan pola
penulisan sejarah yang unik, hidup, lincah, dan merakyat. Gus Dur selalu
menekankan adanya pengolahan baru di dalam penulisan sejarah yang berorientasi
untuk memberikan paradigma baru, angin segar di setiap tafsirnya ihwal sejarah
Nusantara. Sebab, bagi Gus Dur, sejarah bukanlah sebuah serial yang mati dan
stagnan dari sebuah perspektif. Oleh karenanya, gagasannya tentang sejarah
selalu dibuatnya baru.
Contoh dari sekian kecerdasan Gus Dur di dalam mengolah
sejarah bisa kita simak ketika Gus Dur mengaitkan asal-usul LSM dengan cerita
rakyat. Cerita itu diawali dari pertempuran antara Sultan Hadiwijaya atau yang
terkenal dengan sebutan Jaka Tingkir dan menantunya Sutawijya. Peperangan yang
pada akhirnya dimenangi Sutawijaya itu membuat Hadiwijaya kembali ke Asta
Tinggi, Sumenep, Madura, tempat di mana ia dilahirkan untuk mencari kesaktian.
Akhirnya, setelah Hadiwijaya mendapatkan kanuragan, dia pun
siap bertempur kembali untuk merebutkan Pajang dari tangan menantunya,
Sutawijaya. Akan tetapi, ketika Hadiwijaya istirahat di Pulau Priggobayan atau
kalau sekarang terlentak di Kabupaten Lamongan, Hadiwijaya tertidur lalu
bermimpi dengan sang guru. Dalam Mimpi itu kemudian sang guru menyarankan agar
Hadiwijaya tidak melanjutkan perjalanannya ke Pajang untuk bertempur dengan
Sutawijaya. “Jika itu kamu lakukan,” ujar guru Hadiwijaya dalam mimpi, “kamu
hanya akan menjadi budak kekuasaan.” Singkat cerita, akhirnya Hadiwijaya
mengurungkan niat ke Pajang, lalu mendirikan kekuatan baru di Pringgobayan,
Lamongan, di luar kekuasaan Pajang. (hlm 5-7)
Menurut perspektif Gus Dur, cerita Hadiwijaya tidak jadi
perang dengan Sutawijaya untuk merebutkan Pajang, dengan mendirikan kerajaan
baru di Pringgobayan, Lamongan, itu merupakan benih-benih asal-usul tradisi LSM
di negera kita. Artinya, LSM seharusnya keluar dari lingkar kekuasaan dengan
mengembangkan jati dirinya sendiri, mendidik masyarakat, dan mengontrol
kekusaan yang cenderung arogan. Di sinalah kelebihan tulisan-tulisan sejarah
Gus Dur. Pembaca akan disuguhi cerita-cerita rakyat, kemudian diolah dengan
sesuatu yang baru seperti dikontekskan dengan kondisi sekarang, diramu dengan
bahasa yang jenaka dan lugas.
Gus Dur dengan gaya kepenulisannya juga berani keluar
dari mainstream kepenulisan sejarah pada umumnya. Menafsirkan
sejarah dengan gayanya sendiri, memilih dan memilah data-data referensi dari
berbagai sumber yang tepercaya, termasuk dari cerita rakyat. Sejarah Nusantara
mampu dibaca Gus Dur dengan kritis dan selalu menekankan adanya reinterpretasi
baru dengan menyelipkan nilai-nilai humanisme. Kritik di dalam karya-karyanya
merupakan kelebihan tersendiri dari sosok Gus Dur.
Tulisan-tulisan Gus Dur memang lebih bersifak kualitatif
daripada kuantitatif, dalam artian data-data seperti tahun-tahun tidak begitu
terlihat di sana-sini dalam tulisan-tulisan Gus Dur. Di sinilah mungkin
kelebihan dari kepenulisan sejarah versi Gus Dur. Pembaca tidak dijenuhkan
dengan menghafal tahun-tahun, tetapi lebih diajak untuk bersikap kritis, bahkan
pembaca sering dibuat bertanya-tanya untuk memberikan tafsir sendiri dari
sebuah peristiwa.
Oleh sebab itu, hadirnya buku ini patut kita apresiasi dan
kita jadikan karya nyata, spirit, serta kobar untuk selalu membuat
inovasi-inavasi baru untuk kemajuan bangsa seutuhnya dan seluruhnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar